Pernah menyusun kebutuhan alat lalu bingung sendiri: cukup satu excavator, atau dua? Menebak jumlah unit berujung pada dua masalah. Alat kurang membuat proyek molor; alat berlebih membuat anggaran terbuang. Padahal hitungannya tidak rumit kalau langkahnya benar.
bagi total volume pekerjaan dengan hasil kerja satu alat selama durasi proyek. Hasil kerja = produktivitas per jam × jam kerja efektif per hari × jumlah hari. Bulatkan ke atas, lalu tambahkan cadangan 10–15 persen.
Panduan ini menurunkan rumus itu langkah demi langkah, lengkap dengan contoh angka, sampai hasilnya bisa dipakai menyusun dokumen kebutuhan untuk kegiatan berbasis APBN.
Data Dasar yang Perlu Disiapkan Sebelum Menghitung

Perhitungan akurat berangkat dari data yang lengkap. Kalau angka awalnya meleset, hasil akhirnya ikut meleset, sebagus apa pun rumusnya. Kumpulkan dua data pokok berikut dari gambar kerja dan jadwal proyek sebelum membuka kalkulator.
Volume pekerjaan per jenis kegiatan
Pisahkan volume per jenis kegiatan: galian tanah, timbunan, pemadatan, atau pemuatan material. Satuannya umumnya meter kubik (m³) untuk pekerjaan tanah, dan meter persegi untuk perataan jalan dengan motor grader atau pemadatan dengan vibro roller. Tiap kegiatan bisa memakai alat berbeda, jadi jangan digabung dalam satu angka besar.
Durasi dan jam kerja efektif
Ambil durasi dari jadwal kontrak, lalu ubah menjadi jam kerja efektif. Satu hari kerja delapan jam biasanya hanya menghasilkan sekitar tujuh jam efektif karena ada istirahat, pengisian solar, dan perpindahan posisi. Hitung juga hari libur dan perkiraan hari hujan agar jadwalnya realistis.
Rumus Sederhana untuk Menghitung Produktivitas Alat
Setelah volume dan waktu jelas, hitung seberapa banyak pekerjaan yang mampu diselesaikan satu alat per jam. Angka inilah yang disebut produktivitas, dan rumusnya bisa dipakai berulang untuk jenis alat apa pun cukup ganti kapasitas dan waktu siklusnya.
Produktivitas excavator per jam
Untuk excavator, produktivitas dihitung dengan rumus: kapasitas bucket × faktor bucket × 3.600 × efisiensi kerja ÷ waktu siklus (detik). Faktor bucket menggambarkan seberapa penuh bucket terisi (biasanya 0,8–0,9 pada tanah biasa), sedangkan efisiensi kerja umumnya 0,70–0,80 tergantung kondisi lapangan dan keahlian operator. Satu catatan penting: rumus ini menghitung volume dalam kondisi asli (bank), sementara pengukuran di lapangan sering memakai kondisi gembur sesuaikan dengan faktor gembur tanah.
Contoh perhitungan jumlah unit
Misalkan sebuah proyek saluran punya volume galian 40.000 m³ dengan waktu 40 hari kerja. Unit yang direncanakan adalah excavator kelas 20 ton berbucket 0,8 m³.
| Parameter | Nilai contoh |
|---|---|
| Volume galian | 40.000 m³ |
| Durasi proyek | 40 hari |
| Jam kerja efektif | 7 jam per hari |
| Kapasitas bucket | 0,8 m³ |
| Faktor bucket | 0,85 |
| Efisiensi kerja | 0,75 |
| Waktu siklus | 25 detik |
Produktivitasnya: 0,8 × 0,85 × 3.600 × 0,75 ÷ 25 = 73 m³ per jam. Dengan 7 jam efektif per hari, satu unit menghasilkan sekitar 20.440 m³ dalam 40 hari. Maka kebutuhannya 40.000 ÷ 20.440 = 1,96, dibulatkan menjadi 2 unit.
Ingin mengetahui informasi penyedia dan layanan pengadaan secara lebih lengkap? Profil Marluga Satahi Indonesia di INAPROC dapat menjadi referensi untuk mendapatkan informasi penyedia dan kebutuhan pengadaan.
Faktor Lapangan yang Memengaruhi Hasil Hitungan
Angka di atas kertas belum tentu sama dengan kenyataan di lokasi. Beri ruang penyesuaian, terutama bila cuaca tidak menentu atau akses terbatas. Faktor yang paling sering menggeser hasil:
- Cuaca dan hujan: pekerjaan tanah bisa terhenti total, sementara hari tetap dihitung dalam kontrak.
- Akses dan mobilisasi: jalan sempit atau jembatan berkapasitas terbatas memperlambat perpindahan unit.
- Kemiringan dan daya dukung tanah: menurunkan kecepatan siklus dan menambah waktu tempuh.
- Kemampuan operator: operator berpengalaman memangkas waktu siklus secara signifikan.
- Kondisi unit: alat yang sering mogok langsung mengubah produktivitas harian.
- Ketersediaan bahan bakar dan antrean kerja: menambah waktu tunggu yang tidak terlihat di atas kertas.
Menerjemahkan Hasil Hitungan ke Pengadaan Alat Berat Konstruksi
Hasil perhitungan baru berguna kalau diterjemahkan menjadi keputusan yang jelas dalam pengadaan alat berat konstruksi. Anda perlu menentukan skema beli atau sewa, memperkirakan biaya, dan menyiapkan cadangan bila ada kendala. Dengan begitu, angka teknis tadi langsung berubah menjadi bahan dokumen kebutuhan yang mudah dipertanggungjawabkan.
Beli atau sewa berdasarkan total jam pakai
Dari contoh tadi, dua unit bekerja 280 jam masing-masing total 560 jam. Dengan tarif sewa excavator 20 ton sekitar Rp350 ribu–Rp600 ribu per jam di Pulau Jawa, estimasi biayanya Rp196 juta–Rp336 juta, di luar mobilisasi. Karena hanya dipakai satu musim, sewa lebih hemat dibanding membeli. Angka ini gambaran awal dan bisa berubah sesuai lokasi serta paket layanan.
Cadangan unit dan pemeriksaan penyedia
Sisihkan cadangan waktu atau unit sekitar 10–15 persen untuk mengantisipasi kerusakan dan cuaca. Setelah kebutuhan final, periksa calon penyedia: legalitas usaha, riwayat servis unit, operator bersertifikat, dan ketersediaan suku cadang. Rekam jejaknya bisa dicek langsung, misalnya pada proyek pengadaan excavator dinas PU.
Konsultasi Perhitungan Kebutuhan Bersama Penyedia
Kalau data belum lengkap atau Anda ragu dengan hasil hitungan, konsultasi dengan perusahaan pengadaan barang dan jasa berpengalaman bisa jadi pembanding yang berguna. Bawa data volume, durasi, dan kondisi medan, lalu diskusikan kelas alat serta jumlah unit yang realistis sebelum dokumen pengadaan disusun.
PT Marluga Satahi Indonesia melayani perhitungan awal dan estimasi biaya untuk instansi daerah. Untuk konsultasi atau permintaan penawaran, buka kontak perusahaan pengadaan barang.
FAQ Seputar Menghitung Kebutuhan Alat Berat
Bagaimana cara menghitung kebutuhan alat berat proyek?
Bagi total volume pekerjaan dengan hasil kerja satu alat selama durasi proyek. Hasil kerja didapat dari produktivitas per jam dikalikan jam kerja efektif, lalu hasil pembagiannya dibulatkan ke atas.
Data apa saja yang dibutuhkan untuk menghitung kebutuhan alat berat?
Volume pekerjaan, durasi proyek, jam kerja efektif, jenis tanah, dan kondisi akses lokasi. Data ini menjadi dasar perhitungan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Berapa produktivitas excavator per jam?
Untuk excavator kelas 20 ton berbucket 0,8 m³, produktivitasnya sekitar 70–75 m³ per jam pada kondisi tanah biasa. Angkanya berubah sesuai waktu siklus, jenis tanah, dan keahlian operator.
Berapa kisaran harga sewa excavator per jam?
Untuk kelas 20 ton, sekitar Rp350 ribu–Rp600 ribu per jam di Jawa, dan cenderung lebih tinggi di luar Jawa. Tanyakan apakah operator, bahan bakar, dan mobilisasi sudah termasuk.


